Nama
: Risky Fuji Lestari
NIM :
11003062
Kelas :
PBSI (B) Universitas Ahmad Dahlan
Legenda Batu Balai
Cerita rakyat dari Bangka Belitung
Alkisah, di
sebuah hutan di daerah Mentok, Bangka-Belitung, hiduplah seorang janda miskin.
Ia tinggal di sebuah gubuk reot bersama anak laki-lakinya yang bernama Dempu
Awang. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, mereka menanam ubi, keladi, dan
sayur-sayuran di ladang. Hasil yang mereka peroleh hanya cukup untuk dimakan
sehari-hari, dan terkadang kurang. Begitulah kehidupan Dempu Awang dan ibunya
setiap hari. Lama kelamaan, Dempu Awang pun semakin jenuh dan sering
bermalas-malasan pergi ke ladang.
Suatu hari, Dempu Awang duduk termenung
seorang diri di depan gubuknya memikirkan nasibnya. Di tengah-tengah lamunannya
itu, tiba-tiba muncul keinginannya untuk merantau mencari pekerjaan yang lebih
baik.
“Jika aku pergi merantau, bagaimana dengan ibuku? Ia akan
tinggal sendirian di sini dan tak ada lagi yang membantunya bekerja di ladang,”
pikirnya.
Setelah mempertimbangkan masak-masak, akhirnya Dempu Awang
memberanikan diri untuk menyampaikan niat itu kepada ibunya.
“Bu, bolehkah Dempu mengatakan sesuatu?” tanya Dempu.
“Apakah itu, Anakku? Katakanlah!” jawab ibunya.
“Dempu ingin merantau ke negeri seberang, Bu! Jika begini
terus, kapan hidup kita bisa memiliki kehidupan yang lebih baik,” ungkap Dempu
Awang.
Mendengar ungkapan itu, ibu Dempu menjadi
bingung. Di satu sisi, ia merasa bahwa apa yang dikatakan anaknya itu benar.
Namun di sisi lain, ia tidak ingin berpisah dengan anak semata wayangnya itu.
“Anakku, Ibu semakin tua. Jika kamu pergi, siapa yang akan
mengurus Ibu, Nak?” kata ibu Dempu.
“Bu, Dempu pergi tidak akan lama. Jika sudah berhasil, Dempu
akan segera kembali menemui Ibu,” bujuk Dempu.
Setelah berkali-kali didesak, akhirnya ibu Dempu Awang
mengizinkan Dempu Awang merantau, walaupun dengan perasaan berat hati.
“Baiklah, Anakku! Jika itu sudah menjadi tekadmu, Ibu
mengizinkanmu pergi. Tapi, jangan lupa segera kembali jika sudah berhasil,”
kata ibu Dempu.
“Terima kasih, Bu! Dempu berjanji tidak akan melupakan Ibu,”
ucap Dempu Awang dengan perasaan gembira.
“Bagaimana caramu merantau, Anakku? Bukankah kita tidak
mempunyai uang untuk membayar ongkos naik kapal?” tanya ibunya bingung.
“Tenang, Bu! Dempu sudah memikirkan semua itu sebelumnya.
Untuk membayar ongkos naik kapal, Dempu bersedia menjadi anak buah kapal,”
jawab Dempu sambil tersenyum.
Keesokan harinya, Dempu Awang pergi ke
pelabuhan untuk melihat apakah ada kapal yang sedang berlabuh. Pada hari itu,
kebetulan sebuah kapal besar sedang berlabuh. Dempu Awang pun segera menemui si
pemilik kapal.
“Permisi, Tuan! Saya ingin merantau ke negeri seberang untuk
memperbaiki nasib keluarga saya. Saya ingin menumpang di kapal Tuan, tapi saya
tidak mempunyai uang. Berilah saya pekerjaan untuk membayar ongkos kapal!”
pinta Dempu Awang mengimba.
Lantaran iba, pemilik kapal itu pun bersedia mengangkat Dempu
Awang menjadi anak buah kapal.
“Baiklah, Dempu! Besok pagi saya tunggu kamu di sini. Kita
akan berangkat berlayar bersama-sama menuju negeri seberang,” kata pemilik
kapal.
Setelah mendapat izin dari pemilik kapal, Dempu Awang segera
menyampaikan berita gembira itu kepada ibunya. Mendengar berita gembira itu,
hati ibunya senang bercampur sedih, karena ia benar-benar akan berpisah dengan
anak kesayangannya.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali ibu
Dempu mempersiapkan bekal makanan dan pakaian seadanya untuk Dempu selama di perjalanan.
Setelah semuanya siap, berangkatlah Dempu ke pelabuhan bersama ibunya.
Sesampainya di pelabuhan, kapal yang akan ditumpangi Dempu sudah bersiap-siap
untuk berangkat.
“Dempu...! Cepatlah naik ke kapal! Kita segera berangkat!”
seru si pemilik kapal dari atas anjungan.
“Iya, Tuan!” jawab Dempu.
Dempu Awang pun berpamitan kepada ibunya.
Ia memeluk ibunya dengan erat, sang Ibu pun membalas pelukan anaknya sambil
meneteskan air mata. Sejenak, suasana menjadi haru. Perasaan sedih menyelemuti
hati keduanya.
“Berangkatlah, Anakku! Ibu doakan semoga kamu berhasil dan
jangan lupa cepat kembali!” pesan ibunya.
”Iya, Bu! Dempu akan selalu ingat pesan Ibu. Jaga diri Ibu
baik-baik!” kata Dempu.
Usai mencium tangan ibunya, Dempu Awang
segera berlari naik ke atas kapal. Beberapa saat kemudian, kapal yang
ditumpangi itu pun berangkat. Dempu Awang melambaikan tangan kepada ibunya.
Sejak itu, ibu Dempu tinggal seorang diri di gubuknya. Setiap hari ia
senantiasa berdoa agar anaknya sampai di tujuan mendapatkan pekerjaan dan
segera kembali.
Waktu terus berjalan. Dempu Awang sudah
sepeluh tahun di tanah rantau. Berkat doa ibunya, Dempu Awang menjadi seorang
yang kaya raya dan mempunyai istri yang cantik jelita. Namun, ia tidak pernah
memberi kabar ibunya.
Suatu hari, istri Dempu Awang ingin sekali
bertemu dengan ibu mertuanya. Ia pun menyampaikan niat itu kepada suaminya.
“Kanda! Kapan kita ke kampung halaman Kanda? Dinda ingin
sekali bertemu dengan ibu Kanda,” kata istri Dempu Awang.
“Baiklah, Dinda! Besok pagi kita berangkat. Sampaikan kepada
semua pelayan untuk menyiapkan segala keperluan kita selama di perjalanan dan
oleh-oleh untuk ibu di kampung!” ujar Dempu Awang.
Dengan perasaan gembira, istri Dempu Awang
pun segera menyampaikan pesan suaminya itu kepada para pelayan. Mulai pagi
hingga malam hari, para pelayan sibuk mempersiapkan bekal yang diperlukan,
seperti makanan, minuman, pakaian, serta oleh-oleh untuk ibu Dempu di kampung
halaman.
Keesokan harinya, berangkatlah Dempu Awang
bersama istrinya serta beberapa orang anak buah kapal menuju ke Mentok dengan
menggunakan kapalnya yang besar dan megah. Setelah berhari-hari berlayar, Dempu
Awang bersama rombongannya tiba di pelabuhan Mentok. Para penduduk, baik
nelayan maupun pedagang, berbondong-bondong menuju ke pelabuhan untuk melihat
perahu besar dan megah itu. Ketika mendekat di kapal itu, mereka melihat
seorang pemuda gagah berpakaian mewah berdiri di anjungan kapal dan seorang
wanita cantik berdiri di sampingnya. Di antara penduduk tersebut ada yang
mengenal pemuda gagah itu.
“Hai, lihatlah! Bukankah itu Dempu Awang?” kata seorang
penduduk.
“Benar! Dia Dempu Awang, anak orang miskin itu,” sahut
penduduk lainnya.
Sementara itu, dari atas kapalnya, Dempu
Awang menyebarkan pandangannya kepada seluruh penduduk yang mendekat ke
kapalnya. Ia sedang mencari ibunya yang sangat dirindukannya. Setelah mengamati
satu per satu wajah mereka, ternyata orang yang dicarinya itu tidak ada. Ia pun
memanggil beberapa orang penduduk naik ke atas kapalnya dan menanyakan
keberadaan ibunya. Salah seorang penduduk mengatakan bahwa ibunya masih hidup.
“Baiklah. Kalau memang ibuku masih hidup, tolong panggilkan
dan bawa naik ke kapal ini. Aku ingin memastikan apakah dia benar-benar ibuku!”
pinta Dempu Awang kepada penduduk itu.
Tak berapa lama, penduduk itu datang
bersama seorang wanita tua berpakaian compang-camping. Wanita tua itu kemudian
segera naik ke kapal untuk menemui anaknya yang sudah lama dirindukannya. Dempu
Awang mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya. Namun karena malu mengakui
sebagai ibunya di hadapan istrinya, ia pun mengusir wanita tua itu.
“Pelayan! Usir nenek peot ini dari kapalku! Dia bukan ibuku.
Dia hanya petani miskin yang mengaku-ngaku sebagai ibuku!” seru Dempu Awang
sambil berkacak pinggang.
“Dempu Awang! Dia adalah ibumu yang telah kau tinggalkan
sendirian selama puluhan tahun,” sahut seorang penduduk yang hadir di tempat
itu.
“Benar, Anakku! Aku ini ibumu yang telah melahirkan dan
membesarkanmu. Ibu sangat mengenal tanda goresan di keningmu bekas luka karena
terjatuh dulu,” kata wanita tua.
Mendengar pengakuan wanita tua itu, Dempu
Awang semakin marah. Istrinya pun berusaha menenangkan hatinya.
“Iya, Kanda! Mungkin saja wanita tua itu benar bahwa Kanda
adalah anaknya. Janganlah menjadi anak durhaka dan tak usah malu kepada Dinda!”
bujuk istrinya.
Bujukan sang Istri bukannya membuat hati
Dempu Awang menjadi tenang, tetapi justru kemarahannya semakin memuncak. Ia pun
menghampiri dan kemudian mendorong wanita tua itu hingga terjatuh
berguling-guling di tangga kapal. Hati wanita itu hancur berkeping-keping
melihat perlakuan anaknya terhadap dirinya. Dengan perasaan sedih, wanita tua
malang itu segera meninggalkan pelabuhan menuju ke gubuknya. Setelah agak jauh
dari pelabuhan, ibu Dempu Awang berhenti di jalan seraya menengadahkan kedua
belah tangannya ke atas.
“Ya, Tuhan! Berilah balasan yang setimpal kepada anak hamba
yang durhaka itu, karena tidak mau mengakui hamba sebagai ibu kandungnya,”
pinta ibu Dempu Awang.
Doa sang Ibu benar-benar dikabulkan oleh
Tuhan Yang Mahakuasa. Ketika Dempu Awang hendak berlayar meninggalkan pelabuhan
Mentok, tiba-tiba langit menjadi mendung. Kemudian turunlah hujan yang sangat
deras disertai angin topan dan petir yang menyambar-nyambar. Tiba-tiba
gelombang laut setinggi gunung menghantam kapal Dempu Awang yang megah itu
hingga terbelah menjadi dua, lalu karam ke dasar laut.
Setelah cuaca kembali cerah seperti
semula, tampaklah sebuah batu besar di tempat kapal Dempu Awang karam. Batu
yang menyerupai kapal besar itu merupakan penjelmaan Dempu Awang dan kapalnya,
sedangkan istrinya menjelma menjadi kera putih. Hingga kini batu tersebut masih
terpelihara dengan baik. Oleh masyarakat setempat, batu tersebut diberi nama
Batu Balai, karena pada zaman dahulu, di samping batu itu terdapat sebuah balai,
yakni sebuah kantor pemerintahan yang biasa dijadikan sebagai tempat
bermusyawarah.
No comments:
Write komentar